DOKTRIN GEREJA
Gereja
berasal dari kata ‘ekklesia’ dari
LXX, yang menunjukkan persekutuan umat Israel. Ekklesia jelas buka istilah Yahudi, kata ini merupakan kata biasa
dalam bahasa Yunani klasik untuk suatu kumpulan orang yang berkumpul atas
panggilan pembawa berita, dan memang digunakan dalam Kis. 19:32 untu suatu
persekutuan sekuler. Dengan demikian, ini merupakan kata benda yang tepat
digunakan pada suatu masyarakat yang di dalamnya termasuk pula banyak orang
bukan Yahudi. Namun, ‘Gereja’ tidak pernah digunakan untuk bangunan seperti
sekarang ini, atau untuk suatu denominasi. Dalam 1 Kor. 12:28, Paulus menunjuk
kepada mereka yang telah dipilih Allah dalam Gereja – benar-benar Gereja am –
yaitu ‘rasul-rasul, nabi-nabi, dan sebagainya.
Gereja
am juga disebut dengan nama yang berbeda: ‘Israel milik Allah’ (Gal. 6:16),
‘orang-orang bersunat’ (Fil. 3:3), yang menegaskan pengakuan bahwa Gereja
adalah kelanjutan dan penyempurnaan umat pilihan dalam PL. Uraian lengkap
mengenai ekklesia dalam PB terdapat
di 1 Ptr. 2:9: ‘bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus,
kepunyaan Allah sendiri’.
Oleh
karena itu, kata Inggris ‘church’merupakan
terjemahan yang tepat untuk ekklesia. Kata
tersebut seperti kata Scotlandia kirk, dan
kata Jerman Kirche. Kemunkinan kata Kirche dibawa oleh para pedagang yang
naik ke Danube dan turun ke Rhine.[1]
Gereja
merupakan pokok pembahasan yang sangat dikenal namu sekaligus juga sangat
disalahpahami. Bagi kebanyakan orang gereja merupakan titik perjumpaan yang
pertama, bahkan mungkin satu-satunya, titik perjumpaan dengan kekristenan. Karl
Barth mengamati bahwa salah satu cara gereja bersaksi tentang Yesus Kristus
adalah dengan keberadaannya tersebut. Salah pengertian dalam memahami gereja
disebabkan oleh berbagai penggunaan istilah gereja. Kadang-kadang istilah ini
dipakai untuk menunjuk kepada bangunan arsitektural, sebuah gedung, misalnya
gedung gereja GPIB. Kadang-kadang istilah ini dipakai untuk menunjuk kepada
sekelompok orang percaya, misalnya GKI atau GSJA. Kali lain kata ini dipakai
untuk mengacu kepada sebuah denominasi, suatu kelompok yang diasingkan oleh
suatu ciri khas tertentu: misalnya gereja Prebiterian atau gereja Lutheran.
Salah
satu alasan kurangnya pengertian ini, disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam
sejarah gereja tidak pernah doktrin gereja mendapatkan perhatian khusus
sebagaimana yang diberikan kepada pokok-pokok doktrin lainnya. Pada siding
pertama Dewan Gereja Sedunia di Amsterdam tahun 1948, Romo Georges Florovsky
mengatakan bahwa dotrin tentang gereja belum melewati tingkat yang lebih tinggi
dari tingkat prateologi. Sebagai kontras, Kristologi dan doktrin Tritunggal
telah diberi pusat perhatian di abad ke-4 dan ke-5, sebagaimana halnya dengan
karya pendamaian Kristus sepanjang abad-abad pertengahan dan dotrin keselamatan
di abad ke-16. Namun perhatian khusus semacam itu belum pernah diarahkan kepada
gereja.
Gerakan
oikumenis abad ke-20 telah mendesak pokok pembahasan ini ke garis paling depan.
Karena perhatian utama dari gerakan oikumene adalah hubungan antar organisasi
gereja satu sama lain; dan manifestasinya yang paling nayata dalam bentuk
“Dewan Gereja- Gereja.” John Macquarrie mengarahkan perhatian kita kepada
kenyataan, bahwa sebagian besar pembahasan mengenai gereja adalah mengenai
hubungan atau kedudukan gereja terhadap dunia di sekitarnya. Penekanan terhadap
masalah-masalah seperti perubahan sosial dan pelaksanaan misi gereja dan bukan
kepada gereja sendiri lebih disebabkan oleh pergeseran umum yang menghasilkan
cara berpikir yang lebih sekular. Dengan kata lain, telah terjadi suatu
perubahan besar terhadap cara kita memandang Allah; kini imanensinya lebih
ditekankan dari pada transedensinya. Allah kini tidak lagi dipandang sebagai
menghadapi dunia ini lewat cara adikodrati, yaitu gereja. Pada umumnya gereja
kini tidak lagi dilihat sebagai pengejawantahan kehadiran dan kegiatan ilahi di
dalam dunia sebagai perantara Allah yang khusus. Kini dipahami bahwa Allah
menghadapi dunia lewat berbagai yayasan dan cara. Penekanannya adalah pada apa
yang dilakukan oleh Allah dan bukan pada siapa Dia itu. Oleh karena itu, kini
lebih diperhatikan pelaksanaan misi gereja daripada identitas serta
batas-batasnya. Dalam bentuk yang paling canggih gereja dipandang
sebagai tempat penyimpanan anugerah ilahi.
Definisi
Empiris – Dinamis mengenai Gereja
Abad ke-20
dengan ketidaksenangan yang tersebar luas terhadap pemikiran filsafat,
khususnya terhadap metafisika dan ontologi, kurang sekali memperhatikan sifat
teoritas dari suatu hal, melainkan lebih tertarik pada manifestasi historis
yang konkret. Oleh karena itu, teologi modern tidak terlalu tertarik pada
hakikat gereja, yaitu “apa gereja itu sebenarnya” atau “bagaimana seharusnya
keadaan gereja”, melainkan pada perwujudannya, secara konkret dan dinamis.
Gereja tidak dilihat berdasarkan hakikatnya, melainkan berdasarkan
eksistensinya – suatu tafsiran yang jelas bersifat eksistensialistik. Gereja
merupakan satu peristiwa, dan bukan kesatuan yang lengkap dan terwujud. Banyak
pakar teologi merujuk kepada sejarah gereja untuk menunjukkan jati-diri gereja:
gereja adalah sebagaimana ia tampil dalam sejarah. Beberapa di antaranya
melihat gereja sebagai suatu gejala PB saja; maksudnya, mereka membatasi studi
sejarah mereka pada periode gereja yang paling mula-mula, karena itu dianggap
paling menentukan. Gereja seharusya menjadi seperti mula-mula.
Definisi
Alkitabiah-Filologis mengenai Gereja
Istilah gereja dalam bahasa Inggris (church) dan
istilah sama dalam bahasa serumpun, berasal dari bahasa Yunani kuriakos yang artinya “menjadi milik
Tuhan.” Akan tetapi kata-kata tersebut harus dipahami dalam terang PB ekklesia. Sekalipun istilah ini
merupakan istilah yang sering dipakai, namun pemakaiannya di dalam PB tidak
teratur. Satu-satunya pemakaian istilah ini di dalam Injil-injil adalah di Mat.
16:18 dan 18:17, yang penggunaannya pun sering kali dipersoalkan. Arti dari
konsep ini di dalam PB harus dilihat dengan dua latar belakang, yaitu bahasa
Yunani klasik dan PL. dalam bahasa Yunani Klasik ekklesia ditemukan sudah sejak zaman Herodotus, Thucydides,
Xenophon, Plato serta Euripides (abad ke-5 sM dan seterusnya). Istilah ini
merujuk kepada sekelompok orang warga negara sebuah kota (polis). Dalam arti kata yang sekular, maka istilah ini merujuk
kepada sekelompok orang yang berkumpul. Yang lebih penting bagi kita adalah
latar belakang PL nya. Di dalam PL kita berjumpa dengan dua istilah bahasa
Ibrani yaitu qahal dan ‘edah. Istilah qahal yang mungkin sekali berakar pada kata yang artinya suara,
merujuk kepada panggilan untuk berkumpul serta tindakan berkumpul itu sendiri.
Istilah ‘edah muncul secara khusus di
kitab Pentateukh, lebih dari separuh terdapat dalam kitab Bilangan. Istilah ini
merujuk kepada umat, khusunya yang berkumpul di depan kemah pertemuan.
Kenyataan bahwa istilah ini dipakai pertama kali dalam Kel. 12:3 mengusulkan bahwa
“jemaah” Israel itu berawal pada perintah untuk merayakan Paskah dan
meninggalkan Mesir. ‘Edah sudah pasti
merupakan istilah permanen bagi jemaat Israel secara menyeluruh. Di pihak lain qahal merupakan istilah keagamaan yang
dilakukan oleh jemaat yang terkumpul oleh perjanjian, yatu bagi jemaat di Sinai
dan dalam pengertian Ulangan (Deuteronomistik), untuk jemaat dalam bentuk
sekarang.
Pada saat
kita memeriksa Septuaginta, akan tampak bahwa istilah ekklesia sering kali dipakai untuk menerjemahkan istilah qahal, namun tidak pernah untuk istilah ‘edah. Istilah ‘edah sering kali diterjemahkan dengan istilah sunagoge. Istilah yang juga dipakai untuk menerjemahkan qahal. Kata ekklesia merupakan sumber utama kita untuk mengerti konsep gereja
dalam PB. Bagian pembukaan dari kitab Wahyu (Wah. 1-3) merupaka surat yang
ditujukan kepada tujuh jemaat secara khusus. Dalam Kisah. Istilah ekklesia juga dipakai untuk menunjuk
kepada semua orang Kristen yang hidup dan berkumpul di kota tertentu, misalnya
Yerusalem (Kis. 5:11). Pengertian jemaat setempat ini jelas merupakan unsur
yang ditekankan dalam pemakaian sebagian besar istilah ekklesia ini. Akan tetapi, dalam banyak kasus, penggunaan istilah ekklesia memiliki pengertian yang lebih
luas – semua orang percaya di kota tertentu (Kis. 8:1; 13:1). Gereja bukan
jumlah atau gabungan dari kelompok orang percaya di berbagai lokasi tersendiri.
Karl Schmidt mengatakan, “Kami telah kemukakan bahwa jumlah keseluruhan jemaat local
tidak menghasilkan seluruh umat Allah atau gereja. Setiap jemaat local,
betapapun kecilnya, mewakili seluruh umat Allah, yaitu gereja. Gereja adalah
tunggal di seluruh dunia, namun pada saat yang sama gereja hadir dalam bentuk
jemaat local tersendiri.
Tubuh Kristus
Gambaran
yang sempurna tentang gereja adalah di mana ketika gereja disebut sebagai tubuh
Kristus. Gambaran gereja sebagai tubuh Kristus menekankan bahwa gereja
merupakan tempat kegiatan Kristus saat ini, sebagaimana halnya dengan tubuh
jasmaniah-Nya ketika masih di bumi. Gambaran ini diapakai untuk gereja secara
universal maupun secara lokal. Tubuh kita hendaknya merupakan tubuh yang
dipersatukan. Para anggota gereja di Korintus terpecah belah oleh karena
persoalan siapa pemimpin yang harus mereka ikuti (1 Kor. 1:10-17; 3:1-9). Hal
ini sebenarnya tidak boleh terjadi, karena semua anggota gereja telah dibaptis
dalam satu Roh menjadi satu tubuh (1 Kor. 12:12-13). Sebagai tubuh Kristus,
gereja meruapakan perpanjangan dari pelayanan-Nya. Dia menugaskan murid-murid-Nya
untuk melanjutkan karya pelayanan-Nya, bahkan dalam taraf yang lebih
menakjubkan (Yoh. 14:2). Dengan demikian, apabila karya Kristus dilanjutkan,
maka karya tersebut dilaksanakan oleh gereja, yaitu tubuh-Nya.
Bait Roh
Kudus
Gereja
adalah gambaran sebagai Bait Roh Kudus. Roh Kuduslah yang membuat gereja
menjadi ada. Gereja kini didiami oleh Roh Kudus, baik secara perorangan maupun
secara kolektif. Seperti yang terdapat dalam 1 Kor. 3:16-17, bahwa: kita adalah
Bait Allah dan juga Roh Allah diam di dalam kita. Karena Dia mendiami gereja,
maka Roh Kudus menyalurkan kehidupan-Nya ke dalam gereja. Roh Kuduslah yang
menyalurka kuasa ilahi kepada gereja. Roh Kudus juga menghasilkan kesatuan di
dalam tubuh Kristus. Kesatuan ini jangan diartikan sebagai keseragaman,
melainkan kesatuan dalam tujuan dan tindakan. Sebagaimana seperti gereja
mula-mula, di mana mereka saling bersatu hati dan saling rasa memiliki satu
dengan yang lainnya (Kis. 2:44-45). Roh Kudus yang mendiami gereja, juga menciptakan
kepekaan terhadap pimpinan Tuhan.
Gereja (bahasa
Portugis: igreja dan bahasa Yunani:
εκκλησία (ekklêsia)) adalah suatu kata bahasa
Indonesia yang berarti suatu perkumpulan atau lembaga dari penganut Kristiani.
Istilah Yunani ἐκκλησία, yang muncul dalam Perjanjian
Baru di Alkitab Kristen biasanya diterjemahkan sebagai "jemaat".
Istilah ini muncul dalam 2 ayat dari Injil Matius,
24 ayat dari Kisah Para Rasul, 58 ayat dari surat Rasul Paulus,
2 ayat dari Surat kepada Orang Ibrani, 1 ayat dari Surat Yakobus,
3 ayat dari Surat Yohanes yang Ketiga, dan 19 ayat dari Kitab Wahyu.
Etimologi
Gereja berasal dari bahasa Portugis:
igreja, yang berasal dari bahasa Yunani: εκκλησία (ekklêsia) yang
berarti dipanggil keluar (ek= keluar; klesia dari kata kaleo=
memanggil); kumpulan orang yang dipanggil ke luar dari dunia memiliki beberapa
arti:
1. Arti pertama ialah 'umat', atau
lebih tepat, 'persekutuan' orang Kristen. Arti ini diterima sebagai arti pertama bagi orang Kristen.
Jadi, gereja pertama-tama bukanlah sebuah gedung.
2. Arti kedua adalah sebuah perhimpunan
atau pertemuan ibadah
umat Kristen.
Bisa bertempat di rumah kediaman, lapangan, ruangan di hotel, maupun tempat
rekreasi.
3. Arti ketiga ialah mazhab (aliran)
atau denominasi dalam agama Kristen. Gereja Katolik,
Gereja Protestan,
dan lain-lain.
4. Arti keempat ialah lembaga
(administratif) daripada sebuah mazhab Kristen.
Contoh kalimat “Gereja menentang perang Irak”.
5. Arti terakhir dan juga arti umum
adalah sebuah “rumah ibadah” umat Kristen,
di mana umat bisa berdoa
atau bersembahyang.
Gereja (untuk arti yang pertama)
terbentuk 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus pada hari raya Pentakosta,
yaitu ketika Roh Kudus
yang dijanjikan Allah diberikan kepada semua yang percaya pada Yesus Kristus.[2]
Definisi
Empiris-Dinamis Mengenai Gereja
Abad
ke-20 dengan ketidaksenangan yang terbesar luas terhadap pemikiran filsafat,
khususnya terhadap metafisika da ontologi, kurang sekali memperhatikan sifat
teorits dari suatu hal, melainkan lebih tertarik pada manifestasi historis yang
konkret. Oleh karena itu, teologi modern tidak terlalu tertarik pada hakikat
gereja, yaitu “apa gereja itu sebenarnya”, atau “bagaimana seharusnya keadan
gereja”, melainkan pada perwujudannya, secara konkret dan dinamis.
[1] W.R.F. Browning, KAMUS ALKITAB, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, cet. ke-5, 2013), hal. 118.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja,
Diakses pada tanggal 01 Maret 2015, pukul: 15:30.